
Kopi Aroma Bandung
Januari 24, 2008Hari ini rasanya ngantuk banget di kantor. Bukan kurang tidur, tapi karena 2 hari ini setress nyiapin bahan dan ikut klarifikasi untuk tender di salah satu operator komunikasi data. Ngantuknya gak kepalang banget, apalagi tadi perut sudah diisi sama nasi padang nan berlemak, onde mande sleepy-nya. Kalau sudah ngantuk gini, biasanya pengen banget nyeruput kopi hitam hangat dengan gorengan.
Di Jakarta, banyak kafe yang menawarkan kopi dengan berbagai racikan. Tapi menurut saya, kopi yang terbaik yang pernah saya cicipi adalah kopi buatan “Fabriek Koffie Aroma” made in Bandung. Pabrik kopi dengan merk “Aroma” ini sudah ada sejak tahun 1930-an, dan menurut yang punya, ia adalah generasi ke-3 dari pemilik pabrik tersebut.
Ada banyak macam kopi berdasarkan daerah asalnya. Mau kopi Lampung, Toraja, Gayo, Timor, dan lain-lain. Tapi kalau sudah dipanggang, biasanya cuman dibagi atas 2 kategori umum, kopi arabika dan kopi robusta. Saya paling suka kopi arabika, karena aromanya paling harum dibanding kopi robusta, cuman kompensasinya perut harus kuat, karena kopi arabika lebih asam dibading kopi robusta. Kalau kopi robusta, kata si engkoh yang punya pabrik, paling cocok buat kopi tubruk (gak pake gula). Hebatnya, biji kopi yang baru dipanen tidak langsung dipanggang untuk dijadikan bubuk kopi, tapi diperam dulu selama 2 tahun untuk mengurangi kelembaban dan mempertahankan aroma dan cita rasa aslinya. Dan panggangannya menggunakan kayu bakar, sehingga aroma kopi yang sudah dipanggang terasa sekali. Kalau sudah diracik sesuai keinginan sendiri, Starbucks dan Coffee Bean mah lewat.
Kalau tertarik, silakan susuri jalan Banceuy di Bandung. Cari bangunan tua di pertigaan di tengah jalan Banceuy, atau tanya pada orang sekitar, “Fabriek Koffie Aroma” gampang ditemukan. Bisa pesan kiloan atau kalau mau coba bisa pesan dengan ukuran sesuai budget duit di kantong. Koffiee Aroma? Lekker zegh…